Follow Us Email Facebook Google LinkedIn Twitter

Bangsa yang Berkarakter adalah Bangsa yang Membaca

Senin, 20/03/2017 14:11:06

21membaca.jpg


KOMPAS.com

- Pada zaman Hindia Belanda, para pelajar di Algemene Middelbare School (AMS) yang setara dengan Sekolah Menengah Umum (SMU) sekarang diwajibkan untuk membaca. Siswa diminta melahap paling tidak 20 sampai 25 buku karya sastra selama tiga tahun masa studi mereka.

Kegiatan membaca biasanya diikuti dengan menulis karangan setiap minggunya. Dapat dibayangkan banyaknya tulisan yang dihasillkan oleh setiap pelajar selama kurun waktu tiga tahun tersebut.

Tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Hatta, dan Ali Sosroamidjoyo adalah produk pendidikan tersebut. Sejarah juga mencatat banyak buku dan tulisan dahsyat dari para tokoh itu yang kemudian mengubah nasib bangsa ini.

Sebutlah Di Bawah Bendera Revolusi karangan Soekarno. Buku ini berisi semua pemikiran brilian sang proklamator, terutama pada masa pra-kemerdekaan.


Advertisment

Juga bung Hatta, si kutu buku, yang dengan pledoi terkenalnya “Indonesie Vrij” – Indonesia Merdeka. Hatta menulis itu dari balik tembok penjara di Belanda saat ditahan Pemerintah Hindia Belanda pada masa studinya.

 

M LATIEF/KOMPAS.com Suasana perpustakaan di APU, Jepang.
 
Nilai universal

 

Situasi yang ada sekarang sangat berbeda. Sastrawan Taufik Ismail pernah melakukan riset tentang kewajiban membaca buku sastra di beberapa negara di kalangan pelajar setingkat SMU selama tiga tahun masa studi mereka.

Hasil risetnya menunjukkan, para pelajar SMU di Jerman wajib membaca 32 buku sastra, di Belanda 30 buku, di Amerika Serikat sebanyak 25 buku, di Jepang 12 buku, di Singapura 6 buku, di Malaysia 6 buku, dan di Indonesia nol!

Hal itu sudah berlangsung lebih dari 60 tahun dan tidak ada yang "panik". Tragedi nol buku! Suatu kemunduran yang mengerikan.

Lalu, apa hubungannya dengan situasi bangsa? Apakah berarti kita ingin menjadikan semua anak di negeri ini menjadi sastrawan? Bukannya negeri ini konon membutuhkan lebih banyak  insinyur, ahli hukum, dan tenaga medis?

Membaca bukan sekedar untuk mengerti arti kata, arti kalimat dan jalan cerita sebuah kisah. Membaca yang benar bukan sekedar kegiatan kognitif. Membaca bukan sekedar untuk ngerti dansekedar tahu. Membaca itu untuk mengolah rasa, mengasah kepekaan, serta membangkitkan kesadaran.

JK Rowling, salah satu penulis tersukses abad ini, mengatakan bahwa salah satu buku favoritnya adalah Macbeth karya pujangga terkenal Willian Shakespeare. Selain itu, Rowling juga menggilai buku-buku politik tentang Abraham Lincoln.

Genre buku yang ditulis Rowling sangat berbeda dengan karya besar Shakespeare. Kita pun sulit membayangkan irisan antara Harry Potter, si karakter utama di buku karangannya dengan Abraham Lincoln si bapak bangsa Amerika, jika kita hanya melihat dari permukaan saja.

Namun, itulah kekuatan membaca! Tak ada batasan genre dalam buku, tidak ada batasan ideologi dalam buku, tidak ada batasan zaman dalam buku.

Membaca novel Harry Potter sama nilainya dengan membaca Little Women karya Louisa May Alcott atau Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya Hamka atau Filosofi Kopi milik Dewi Lestari.

Ya, karya sastra adalah tulisan paling paripurna. Di dalamnya ada rasa, penghayatan dan juga fakta kehidupan. Di dalamnya ada totalitas dan jiwa sang penulis. Itu yang tidak didapat dari buku referensi atau buku pelajaran biasa. Membaca dengan totalitas akan menghasilkan tulisan dengan totalitas pula.

Mungkin, jika Hatta dulu tidak dijejali dengan karya-karya sastra, maka ia hanya akan menjadi seorang ahli ekonomi, bukan proklamator! Boleh jadi, dia mendapatkan gelora cinta tanah air dan kesadaran untuk memerdekakan rakyat terjajah dari buku-buku sastra yang dibacanya.

Buku adalah universal. Ia hanya mengenal imajinasi, kreatifitas, dan rasa ingin tahu. Kekuatan "sihir" dari buku juga dapat mengubah orang memiliki wawasan lebih luas dan cita-cita, serta berorientasi pada penyelesaian masalah (action). Membaca adalah kegiatan kognitif, afektif sekaligus psikomotorik.

Memupuk budaya baca

Apa ciri suatu bangsa sudah memiliki budaya baca yang baik? Banyak sekali fenomena sehari-hari yang dapat menunjukkan hal itu.

Sebutlah misalnya, apakah bangsa tersebut lebih bangga memiliki gedung pencakar langit tertinggi di dunia dan mal terbesar di Asia, atau lebih bangga memiliki toko buku terindah di dunia?

Maastricht, salah satu kota di Belanda, memiliki sebuah toko buku sekaligus perpustakaan yang merupakan salah satu toko buku terindah di dunia. Selexyz Dominicanen adalah sebuah gereja abad ke-13 yang pernah dijadikan hanya sebagai gudang arsip dan tempat parkir sepeda, dan kini dialih fungsikan menjadi kebanggaan dan ikon kota cantik di bagian selatan negeri kincir angin itu.

Bandingkan dengan rumah-rumah retro yang cantik di sepanjang jalan Dago di Bandung. Tak satu pun yang menjadikannya sebagai toko buku atau perpustakaan. Bangunan nan anggun itu harus "rela" hanya dijadikan factory outlet atau warung batagor.

Membaca tidak cukup dijadikan ajakan atau himbauan. Membaca harus menjadi kewajiban. Jika perlu dikembangkan kurikulum pendidikan nasional berbasis membaca.

Kewajiban membaca bagi siswa adalah membaca dalam pengertian lengkap. Bukan sekedar menghafal siapa nama penulis buku Layar Terkembang atau siapa tokoh antagonis dalam buku Siti Nurbaya. Tapi, membaca yang mampu mengasah rasa, menumbuhkan nilai-nilai dan membangun karakter.

Membangun kecintaan pada membaca bukanlah pekerjaan satu malam dan tanggung jawab sekolah saja. It takes a village! JK Rowling mengatakan:"Kalau kamu belum suka membaca, kamu hanya belum menemukan buku yang tepat."

Jadi, jangan menyerah, teruslah pupuk minat membaca!

Bangsa yang membaca

"Iqra! Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.”

Iqra, dari kata dasar qara’a ataumenghimpun. Inilah wahyu pertama sekaligus kunci dari kehidupan dan peradaban.

Membaca bukan sekedar literasi aksara. Membaca adalah menelaah, mendalami, meneliti, dan menyampaikan.

Bangsa yang membaca akan lebih bijak, karena ia memilki banyak jendela untuk memandang masalah dari berbagai sudut.

Bangsa yang membaca adalah bangsa yang mencari solusi dengan melihat ke dalam (inward looking) dan bukan sibuk berteriak menghujat pihak lain sebelum melihat kepada dirinya sendiri.

Bangsa yang membaca adalah bangsa yang terstruktur cara berpikirnya, karena membaca buku fiksi maupun nonfiksi sama-sama menstimulasi kerja otak.

Bangsa yang membaca adalah bangsa yang ‘tenang’, tidak grasak-grusuk.  Karena membaca membutuhkan ‘ruang tenang’ baik itu di perpustakaan, maupun di bis atau kereta komuter yang padat penumpang sekalipun.

Bangsa yang membaca adalah bangsa yang memiliki kepekaan dan kesadaran. Kesadaran terhadap dirinya, kekuatan dan kelemahannya dan kepekaan terhadap sekelilingnya. Bangsa yang membaca tidak mudah menyebar hoax ke berbagai media sosial, tidak membuang waktu berdebat untuk hal yang tidak jelas dasarnya.

Bangsa yang membaca memiliki lisan yang santun, runut dan kental karena merupakan hasil dari menghimpun, mengamati, merenungkan, dan merefleksikan apa yang dilihat, dan dirasakan.

Buku adalah tentang peradaban. Hanya bangsa yang membaca yang memiliki karakter dan peradaban tinggi. Bangsa yang tidak membaca lambat laun akan tersingkir dari peradaban.

Seperti dikatakan oleh Bung Hatta: "Aku rela di penjara, asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Ya, bangsa yang membaca adalah bangsa yang merdeka...

Oleh: INDY HARDONO

sumber: (http://edukasi.kompas.com/read/2017/03/17/09164621/bangsa.yang.berkarakter.adalah.bangsa.yang.membaca.)


–– ADVE

Posting oleh Desi Eri K 9 tahun yang lalu - Dibaca 49451 kali

 
Tag : #MBS # budaya baca

Berikan Komentar Anda

Artikel Pilihan
Bacaan Lainnya
Senin, 15/02/2021 15:16:57
PROFIL KARAKTER SEMANGAT KEBANGSAAN PADA SEKOLAH DASAR UMUM DAN KEAGAMAAN

Abstract: Students are currently experiencing a character crisis which is concerning. Cultivating the character value...

Rabu, 03/02/2021 08:59:00
PENINGKATAN PARTISIPASI ORANGTUA PESERTA DIDIK BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI

Abstract: This study aims to describe (1) the Go Application management process. (2) parental understanding in using...

7 Pilar MBS
MBS portal
2. Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah
a. Konsep DasarManajemen peserta didik berbasis sekolah adalah pengaturan peserta didik yang meliputi kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, dan mengevaluasi program kegiatan peserta didik di sekolah, dengan berpedoman pada prinsip-prinsip implementasi manajemen berbasis...
Informasi Terbaru
Penelitian
MBS portal
Manajemen Berbasis Sekolah dalam Kerangka Penguatan Otonomi Sekolah
Manajemen Berbasis Sekolah dalam Kerangka Penguatan Otonomi Sekolah   A n s a r Universitas Negeri Gorontalo   Abstrac: School Based Management (SBM) is a gift of freedom (autonomy) to the school to take care of everything related to the operation of the school in order to achieve goals...
Modul dan Pedoman
Video MBS
Modul MBS
Modul Pelatihan Praktik Yang Baik Kelas Awal
Modul Pelatihan Praktik Yang Baik Kelas...
11 tahun yang lalu - dibaca 128335 kali
Contoh Sukses Pelaksanaan MBS
Contoh Sukses Pelaksanaan MBS
13 tahun yang lalu - dibaca 99083 kali
Panduan Advokasi dan Lokakarya Penyusunan Rencana Kegiatan, Anggaran, Supervisi dan Monitoring Program MBS
Panduan Advokasi dan Lokakarya...
13 tahun yang lalu - dibaca 68877 kali
Paket Pelatihan Lanjutan untuk Sekolah dan Masyarakat
Paket Pelatihan Lanjutan untuk Sekolah...
13 tahun yang lalu - dibaca 54791 kali
Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan
Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan
11 tahun yang lalu - dibaca 100071 kali
Panduan Pembelajaran Kelas Rangkap
Panduan Pembelajaran Kelas Rangkap
11 tahun yang lalu - dibaca 104912 kali
Asyik Belajar dengan PAKEM : Kelas Awal
Asyik Belajar dengan PAKEM : Kelas Awal
13 tahun yang lalu - dibaca 87836 kali
Asyik Belajar dengan PAKEM : IPS
Asyik Belajar dengan PAKEM : IPS
13 tahun yang lalu - dibaca 106139 kali
Info MBS
3 Inspirasi Manajemen Berbasis Sekolah...
6 tahun yang lalu - dibaca 45680 kali
Mendikbud Tetapkan Empat Pokok...
6 tahun yang lalu - dibaca 53631 kali
PPDB 2019 SMP Sistem Zonasi, Nilai USBN...
7 tahun yang lalu - dibaca 63569 kali
Penghapusan Ujian Nasional Tak Otomatis...
7 tahun yang lalu - dibaca 45503 kali
Tahun Ini, 3.725 SMA/SMK se-Jatim Bebas Biaya Pendidikan  Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul
Tahun Ini, 3.725 SMA/SMK se-Jatim Bebas...
7 tahun yang lalu - dibaca 63884 kali
APBN 2019, Anggaran Pendidikan Rp 492 Triliun, Terbesar untuk Agama
APBN 2019, Anggaran Pendidikan Rp 492...
8 tahun yang lalu - dibaca 42820 kali
Asah Bakat Sejak Dini, Anak Tumbuh Jadi Remaja Hebat
Asah Bakat Sejak Dini, Anak Tumbuh Jadi...
8 tahun yang lalu - dibaca 39693 kali
"Bersiaplah... Pendaftaran SNMPTN...
8 tahun yang lalu - dibaca 127100 kali
Follow Us :
Get it on Google Play

©2013-2026 Manajemen Berbasis Sekolah
MUsage: 3.52 Mb - Loading : 4.49481 seconds