Follow Us Email Facebook Google LinkedIn Twitter

Memegang Kendali Pendidikan Anak

Jum'at, 20/01/2017 09:44:59

26kendali pendidikan.jpg


Banyak orang yang menjadikan sekolah sebagai tumpuan bagi pendidikan anak-anaknya. Bahkan, tidak sedikit yang seolah telah membebaskan dirinya dari kewajiban mendidik anak-anaknya, setelah ia memasukkan anaknya ke sekolah.

Segala sesuatu diserahkan ke sekolah. Ibarat orang mengirim pakaian kotor ke binatu, ia cukup mebayar, lalu menerima hasilnya saja, berupa pakaian bersih.

Tidak sedikit pula yang kecewa dengan pihak sekolah, tapi tidak sanggup berbuat apa-apa. Seorang ibu mengadu pada saya, di sekolah anaknya diajarkan pandangan bahwa musik itu haram. Ia sendiri tidak menganggapnya begitu.

Perbedaan pandangan itu bisa saja menjadi sumber konflik dengan anak. Bagaimana memberi tahu anak mengenai pandangan lain soal musik?

Di situlah pentingnya peran kita sebagai pengendali pendidikan anak. Ingat, tanggung jawab pendidikan anak ada pada kita, bukan pada sekolah. Bagaimana pun juga, sekolah hanya pembantu kita dalam pendidikan.

Peran utama, kendali, harus ada pada kita. Kenapa? Karena ini anak kita. Sebagus apapun sekolah, yang berada di situ adalah orang lain.

Bagaimana bersikap terhadap sekolah? Sekolah adalah mitra kita dalam mendidik anak. Ketika hendak memasukkan anak ke sekolah, kita memilih sekolah yang cocok.

Apa dasarnya? Dasarnya adalah prinsip kita tentang pendidikan anak. Kita punya prinsip dan konsep. Maka kita cari sekolah yang cocok dengan prinsip itu, atau setidaknya mendekati. Jangan sampai kita memasukkan anak ke sekolah yang tidak cocok dengan prinsip kita.

Sekali lagi, sekolah adalah mitra. Artinya, kita juga harus memberi masukan kepada sekolah soal muatan pendidikan yang mereka lakukan.

Saya sering menyampaikan kritik kepada guru-guru di sekolah anak saya. Pernah saya tegur kepala sekolah soal kurangnya tempat sampah pada acara di sekolah, sehingga sampah bertebaran. Di lain waktu saya tegur soal AC yang menyala di ruangan kelas yang tidak sedang dipakai.

Minggu lalu saya hadir rapat di sekolah anak, untuk persiapan jambore pramuka yang akan diikuti anak saya. Salah satu hal yang dibahas adalah soal pintu gerbang tenda yang menurut saya berbiaya mahal.

Gurunya dengan bangga bercerita bahwa gerbang ini nanti akan dikerjakan oleh tukang yang terampil (profesional, istilah dia), dan kemungkinan besar akan memenangkan kompetisi. Usai penjelasan, saya tanya, ”Unsur pendidikan apa yang sedang kita lakukan melalui gerbang megah ini?”

Guru tadi gelagapan, memberi jawaban berputar-putar. Kepala sekolah ikut menjawab, tapi tetap tanpa substansi yang menjawab pertanyaan saya.

Saya paham, karena mereka memang tidak punya jawaban. Mereka sedang khilaf, lupa soal apa itu substansi pendidikan. Akhirnya ada guru yang menjelaskan bahwa para siswa nantinya akan terlibat dalam pembangunan gerbang. Saya anggap jawaban itu sejenis jawaban emergency.

Poin saya adalah, teruslah mengingatkan guru-guru tentang hakikat pendidikan. Saya rewel kepada guru-guru anak saya, bukan karena tidak percaya kepada sekolah. Saya sedang menjalankan peran sebagai pengendali pendidikan anak saya. Sekolah adalah mitra saya.

Saya juga memantau, nilai-nilai apa yang diajarkan di sekolah anak saya. Dalam suasana Natal tertangkap dari pembicaraan bahwa anak-anak di sekolah diajarkan untuk tidak mengucapkan selamat Natal. Pelan-pelan pandangan itu saya koreksi di rumah.

Bagaimana caranya? Kembali ke prinsip tadi. Kita adalah pengendali muatan pendidikan anak-anak kita. Sekolah hanyalah pembantu. Dalam makna lain, sekolah adalah lingkungan yang memberi pengaruh pada anak-anak kita.

Selain sekolah, teman-teman mereka, tetangga, media massa, media sosial, dan lain-lain. Semua memberikan pengaruh. Sebagai penanggung jawab pendidikan, kita mengendalikan pengaruh itu.

Anak-anak kita tidak mungkin kita isolasi dari pengaruh. Tapi kita mengendalikan dampaknya. Itulah peran kita sebagai pengendali.

Praktisnya bagaimana? Terlibatlah, jangan lepas tangan seperti orang mengirim baju kotor ke binatu. Dampingi anak-anak belajar. Perbanyak waktu untuk berinteraksi dengan anak, sehingga kita tahu perkembangan pemahaman dan pikiran, serta tindak tanduk mereka.

Jangan sampai terjadi, anak lepas dari pantauan kita. Kita baru sadar saat anak sudah jauh, dan kita tak sanggup lagi meraihnya.

Saya sediakan waktu minimal 2 jam pada malam hari, untuk mendampingi anak-anak saya belajar, atau sekedar berbincang atau main bersama. Saya habiskan hampir seluruh waktu di akhir pekan untuk bersama mereka. Menurut saya, itu yang dibutuhkan untuk menjadi pengendali pendidikan anak.

aumber: (http://edukasi.kompas.com/read/2017/01/19/07560371/memegang.kendali.pendidikan.anak)

Posting oleh Desi Eri K 9 tahun yang lalu - Dibaca 50541 kali

 
Tag : #MBS # PSM # peranorangtua # pentingnyapendidikan

Berikan Komentar Anda

Artikel Pilihan
Bacaan Lainnya
Minggu, 24/01/2021 07:23:27
PROFIL KARAKTER SEMANGAT KEBANGSAAN PADA SEKOLAH DASAR UMUM DAN KEAGAMAAN

Peserta didik saat ini mengalami krisis karakter yang memprihatinkan Penanaman nilai karakter semangat kebangsaan...

Senin, 14/12/2020 09:18:40
PEMBINAAN POTENSI KEPEMIMPINAN SISWA MELALUI LAYANAN EKSTRAKURIKULER

Abstract: Student leadership potential is not enough just developed through learning activities in the classroom but...

7 Pilar MBS
MBS portal
7. Manajemen Budaya dan Lingkungan Berbasis Sekolah
a. Konsep DasarManajemen budaya dan lingkungan berbasis sekolah adalah pengaturan budaya dan lingkungan yang meliputi kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, dan mengevaluasi program kegiatan budaya dan lingkungan sekolah, dengan berpedoman pada prinsip-prinsip implementasi...
Informasi Terbaru
Penelitian
MBS portal
Peran Kepala Sekolah Dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah
Siti Mistrianingsih. Abstract: The main objective of this study is to describe the implementation of MBS, roles of headmaster, the factors supporting and inhibiting the implementation of MBS at Elementary School in Pandanwangi 1 Malang. The methods of research used the qualitative approach and...
Modul dan Pedoman
Video MBS
Modul MBS
Asyik Belajar dengan PAKEM : IPA
Asyik Belajar dengan PAKEM : IPA
13 tahun yang lalu - dibaca 104597 kali
Asyik Belajar dengan PAKEM : Bahasa Inggris
Asyik Belajar dengan PAKEM : Bahasa...
11 tahun yang lalu - dibaca 92913 kali
Panduan Umum Penyelenggaraan Praktik Terbaik Program DBE 2
Panduan Umum Penyelenggaraan Praktik...
13 tahun yang lalu - dibaca 55088 kali
Panduan Kegiatan DBE1 Tingkat Kabupaten...
13 tahun yang lalu - dibaca 61760 kali
Panduan DBE1 Tingkat Sekolah September 2011
Panduan DBE1 Tingkat Sekolah September...
12 tahun yang lalu - dibaca 90437 kali
Manual Rekonstruksi dan Rehabilitasi - Pasca Gempa Gedung Sekolah dan Madrasah dengan Partisipasi Masyarakat
Manual Rekonstruksi dan Rehabilitasi -...
13 tahun yang lalu - dibaca 65312 kali
Integrasi Kecakapan Hidup dalam...
13 tahun yang lalu - dibaca 76875 kali
Pengajaran Profesional & Pembelajaran...
13 tahun yang lalu - dibaca 152715 kali
Info MBS
Ini Rekomendasi Penting untuk Ubah Dunia Pendidikan di Indonesia
Ini Rekomendasi Penting untuk Ubah...
8 tahun yang lalu - dibaca 56277 kali
Dongkrak Mutu Tenaga Kerja, Pelatihan Vokasi Butuh Suntikan Beasiswa!
Dongkrak Mutu Tenaga Kerja, Pelatihan...
8 tahun yang lalu - dibaca 44600 kali
Berdayakan SMK, Mendikbud Siapkan...
8 tahun yang lalu - dibaca 62719 kali
Generasi Milenial Jangan Takut Bereksperimen
Generasi Milenial Jangan Takut...
8 tahun yang lalu - dibaca 59310 kali
Kemnaker Terus Perkuat Mutu Pelatihan Kerja dan Pemagangan
Kemnaker Terus Perkuat Mutu Pelatihan...
8 tahun yang lalu - dibaca 40498 kali
Saling Adu Kecepatan Robot
8 tahun yang lalu - dibaca 48290 kali
Guru SD Diajak Aktf Menulis Karya Ilmiah
Guru SD Diajak Aktf Menulis Karya Ilmiah
9 tahun yang lalu - dibaca 57767 kali
Budaya Literasi dan Karater Mulai Nampak
Budaya Literasi dan Karater Mulai Nampak
9 tahun yang lalu - dibaca 73677 kali
Follow Us :
Get it on Google Play

©2013-2026 Manajemen Berbasis Sekolah
MUsage: 3.51 Mb - Loading : 2.71812 seconds