PENGEVALUASIAN LAYANAN KHUSUS KAFETARIA BERBASIS SEKOLAH
PENGEVALUASIAN LAYANAN KHUSUS KAFETARIA
BERBASIS SEKOLAH
Manajemen layanan khusus di suatu sekolah merupakan bagian penting dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang efektif dan efisien. Sekolah merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dari penduduk bangsa Indonesia. Sekolah tidak hanya memiliki tanggung jawab dan tugas untuk mlaksanakan proses pembelajaran dalam mengembangkan ilmu penegetahuan dan teknologi saja, melainkan harus menjaga dan meningkatkan kesehatan baik jasmani maupun rohani peserta didik. Hal ini sesuai dengan UU No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab II Pasal 4 yang memuat tentang adanya tujuan pendidikan nasional. Untuk memenuhi tugas dan tanggung jawab tersebut maka sekolah memerlukan suatu manajemen layanan khusus yang dapat mengatur segala kebutuhan peserta didiknya sehingga tujuan pendidikan tersebut dapat tercapai.
Kantin atau warung sekolah diperlukan adanya di tiap sekolah supaya makanan yang dibeli peserta didik terjamin kebersihannya dan cukup mengandung gizi. Para guru diharapkan sekali-kali mengontrol kantin sekolah dan berkonsultasi dengan pengelola kantin mengenai makanan yang bersih dan bergizi. Peran lain kantin sekolah yaitu supaya para peserta didik tidak berkeliaran mencari makanan keluar lingkungan sekolah.
Layanan kafetaria adalah layanan makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh peserta didik disela-sela mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah sesuai dengan daya jangkau peserta didik. Makanan dan minuman yang tersedia di kafetaria tersebut, terjangkau dilihat dari jumlah uang saku peserta didik, tetapi juga memenuhi syarat kebersihan dan cukup kandungan gizinya.
Banyak sekolah menghadapi kesulitan mengatur kedisiplinan siswanya untuk menepati waktu pelajaran dikarenakan siswa harus membeli atau “jajan” makanan atau minuman di luar sekolah. Untuk memperoleh makanan yang sehat dan bersih serta layanan yang baik guna menciptakan pikiran dan konsentrasi siswa atau petugas sekolah yang lain merupakan permasalahan yang harus dipecahkan oleh sekolah. Berkenaan dengan ini keberadaan kafeteria (cafeteria) di sekolah merupakan sekolah alternative untuk memecahkan permasalahan-permasalahan di atas agar dikelola dengan baik.
William H. Roe (dalam Kusmintarjo, 1993:47-48) dalam bukunya “School Business Management” menyebutkan adanyan sejumlah kemungkinan pendidikan untuk layanan makanan atau masakan di sekolah-sekolah, antara lain:
- Memberikan kesempatan pada murid untuk belajar memilih makanan yang baik atau sehat;
- Memberikan bantuan dalam mengerjakan ilmu gizi secara nyata;
- Menganjurkan kebersihan dan kesehatan;
- Menekankan kesopanan dalam masyarakat, dalam bekerja, dan kehidupan bersama;
- Menekankan penggunaan tata karama yang benar dan sesuai dengan yang berlaku di masyarakat;
- Memberikan gambaran tentang manajemen yang prkatis dan baik;
- Menunjukkan adanya koordinasi antara bidang pertanian dan industri;
- Menghindari makanan yang tidak/kurang higienis.
Kafeteria sekolah hendaknya lebih menekankan pada pelatihan kesehatan dan pengajaran di sekolah. Suatu kondisi yang kontradiksi sering ditemui di sekolah, dimana di suatu sisi guru berusaha memperbaki kebiasaan hidup sehat, namun disisi lain ditemui adanya ruang kelas ataupun kamar mandi yang kotor. Setiap usaha sekolah diupayakan untuk menciptakan suatu lingkungan menyeluruh, lingkungan kesehatan sekolah, dan secara khusus lingkungan kafeteria. Kafeteraia sekolah mengembangkan pertumbuhan tingkah laku dan kebiasaan yang baik. Hal-hal berikut dapat diperhitungkan kepala sekolah sebagaimana dia memimpin staf sekolah dan murid-muridnya dalam cara belajar untuk memperbaiki lingkungan kafeteria:
- Menentukan prosedur untuk menutup dan membuka atau kapan anak-anak memasuki dan meninggalkan kafeteria;
- Memperhatikan semua perilaku murid dan kafeteria;
- Menyusun suatu atura pembayaran yang tidak merugikan kafeteria;
- Membuat pengaturan tempat duduk yang serasi;
- Mangatur dekorasi, seperti lukisan, poster-poster kesehatan;
- Menyajikan musik selama jam makan siang;
- Mengatur anak-anak yang makan siang dengan membawa makanan sendiri;
- Menentukan aturan bagi perilaku anak-anak di meja makan;
- Menyusun prosedur pengembalian talam atau tempat makanan dan pada saat meninggalkan ruangan makan.
Dalam rangka implementasi MBS, manajemen kompenen layanan khusus kafetaria harus dilaksanakan dengan baik dan teliti mulai tahap penyusunan anggaran, penggunaan, sampai pengawasan dan pertanggung jawaban sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar semua dana sekolah benar-benar dimanfaatkan secara efesien dan efektif, tidak ada kebocoran-kebocoran, serta bebas dari penyakit korupsi, kolusi, dan nepotisme.
DAFTAR RUJUKAN
- Administrasi Pelayanan Khusus. (Online) (http://darwoto.wordpress.com/2010/03/17/administrasi-pelayanan-khusus/) diakses pada tanggal 6 September 2013.
- Manajemen Layanan Khusus: materi diklat pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah). Jakarta: Perihal Akhmad Sudrajat seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan (Online) (Akhmadsudrajat.wordpress.com) diakses pada 6 September 2013
- Imron, Ali. 1994. Manajemen Peserta Didik Di Sekolah. Malang: DepDikBud.
- Pengelolaan Kafetaria Di Sekolah (Jilid II). Malang: IKIP Malang.
- Siswanti, Cici. 2013. Layanan Kafetaria. (Online) (Cici.siswanti.blogspot.com) diakses pada 6 September 2013
- Tim Dosen AP UPI. 2012. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Posting oleh ERNIE PURWANTI 12 tahun yang lalu - Dibaca 16519 kali
PPDB 2019 SMP Sistem Zonasi, Nilai USBN Tidak Diperhitungkan
jpnn.com, BANYUWANGI - Penerimaan peserta didik baru (PPDB) SD dan SMP Negeri di Banyuwangi segera dimulai, mayoritas...
Memahami "Penderitaan" Siswa di Kelas
Wilson Bhara WatuJakarta - Seorang teman yang bekerja sebagai dosen muda di salah satu perguruan tinggi swasta pernah...
